Tangan Kecil Dibalik Kereta

Nusa Tenggara Timur
Anak Buruh Angkut di Pasar Kasih Naikoten I Kupang

Masih setengah gelap subuh itu, suasana jalan kompleks pasar nampak sudah ramai, ada pedagang yang membawa hasil, papalele (pedagang yang membeli dalam jumlah besar untuk dijajakan kembali secara eceran), hingga pembeli yang sengaja datang lebih awal untuk mendapatkan harga belanjaan sedikit lebih murah.

Kedatangan sebuah kereta kue berwarna biru turut meramaikan suasana Pasar Kasih. Dua anak bergotong-rotong menuntun kereta, berhenti dekat calon pembeli, para pedagang dari Baun yang selalu terpusat depan Rumah Singgah KoAR.

“Kue ko tanta (beli kue tante)?” sapa Tinus ketika seorang ibu tengah menjunjung sayuran berdiri di depan kereta kue. Lengan kiri sang ibu berusaha mengeringkan keringat yang membasahi dahi didingin subuh itu. Tanpa bersuara, Rp. 2.000 berpindah dari tangan si ibu pada Tinus sang penjual kue. Seperti telah ada kontak batin, 4 potong roti gula dalam kantung kresek kecil diberikan Tinus pada si ibu.

Ibu itu berlalu, seorang anak dengan kereta barang berhenti dekat kereta kue. Bajunya nampak lusuh. Terdiam memandangi kue-kue yang dijajakan, sesekali ia tersenyum menutupi wajah lelahnya. Koin Rp. 500 disodorkan pada Aleks untuk mendapatkan sepotong donat.

Lahapnya menghilangkan donat yang dibeli dalam 2 gigitan. Rambut yang sedikit memerah membuat ia terlihat dekil, gelap kulitnya seperti berceritera bagaimana kuatnya ia bertarung melawan terik mentari.

Sorot matanya masih memandang kearah susunan kue, ketika dalam diam kereta barang yang diawaki menuntunnya berlalu, saat seorang ibu dengan kantong-kantong plastik bergelantungan ditangan memanggil.

Aku mendekati kereta kue, sejenak melihat susunan donat dan roti gula. Bermodal Rp. 10.000, nampaknya cukup untuk sarapan kami di Rumah Singgah KoAR.

Sedikit berceritera dengan Tinus dan Aleks, aku baru tahu ternyata donat adalah jualan Aleks dan roti gula dijajakan Tinus. Mereka sengaja berjualan bersama, selain memudahkan dalam membawa jualan, juga karena hanya 1 kereta yang disediakan pemilik kue.

Ronal keluar dengan 2 piring kosong menyambut kue-kue yang telah terbeli, 1 piring untuk donat dan 1 piring lagi untuk roti gula, sepertinya cara berbelanja ini adil untuk dua penjual kue cilik ini.

Beberapa saat wajah lelah mereka terlihat sumringah, melihat dagangannya berkurang.

Sudah 3 tahun, mereka merantau ke Kota Kupang dari Ayotupas, sebuah kampung di pedalaman Kabupaten Timor Tengah Selatan. Niat merantau muncul saat mereka harus berhenti dari Sekolah Dasar, sebab tak lagi mampu membiayai lembaga pendidikan ini agar bisa belajar hingga memegang ijasah tanda kelulusan.

Kini, setelah mengikuti jejak Robi, teman sekampung yang lebih dulu merantau ke Kupang, kehidupan keduanya lebih banyak dihabiskan dalam kompleks Pasar Kasih Naikoten.

Dari ceritera Robi, yang paling mempengaruhi mereka adalah ia mendapat uang dari bekerja sendiri, serta bisa mengirim uang bagi keluarganya di kampung.

Ketika ku tanya mengapa tak tinggal saja dan bertani di kampung, serta merta Aleks menjawab “Hujan sudah malas turun kaka!”.  Aku hanya termenung mendengar jawaban Aleks.

Pertama tiba di Kupang, Tinus dan Aleks berjualan kantong kresek di pasar inpres, tapi karena hasilnya sangat sedikit, mereka beralih profesi setelah ditawarkan Om Sem untuk menjajakan kue buatan istrinya dengan kereta.

“Dulu jual pelastik (kantong kresek) tiap hari paling banyak dapat lima ribu sa (saja), ma (tapi) sekarang tiap hari ketong (kami) bisa dapat sepuluh ribu”, tutur Tinus disambut anggukan Aleks.

Kini setiap hari keduanya berjualan kue dengan kereta demi Rp.50, dari setiap potong kue yang berhasil dijual. Sarapan dan makan siang mereka ditanggung pemilik kue, sehingga uangnya dapat ditabung serta membeli keperluan lain termasuk kost seharga Rp. 150.000 per bulan yang ditempati berdua. Selain itu, mereka juga bisa mengirim uang bagi keluarga di kampung.

Saat berjualan kresek, jangankan mengirim uang ke kampung, makan saja mereka sulit. Bahkan untuk tidur setiap malam pelataran toko dalam kompleks pasar inpres menjadi tempat mereka melepas lelah.

Aku berlalu, membiarkan mereka kembali menjajakan kue tanpa terhalang ajakan ceritera ku, seraya berpesan, “kalau ingin belajar setelah berjualan mampir saja ke Rumah Singgah KoAR”, seperti mengiklankan, ku ceriterakan bahwa di dalam ada perpustakaan yang buku-bukunya mungkin akan membuat mereka tertarik.

Tinus dan Aleks merupakan gambaran kecil dari 23.103 anak yang dalam data Lembaga Perlindungan Anak Nusa Tenggara Timur (LPA-NTT) dikategorikan sebagai pekerja anak. Dari jumlah tersebut terdapat 13.369 anak terlantar, gelandangan 195.000 anak, dan sebagai pekerja seks sebanyak 1.335 anak.

Penunjuk waktu di HP ku tertera 12.14 Wita, ingatan kemudian tersadar akan kedua bocah penjual kue, sengaja aku keluar dari peraduan, menengok keluar halaman tempat kereta kue biru beradu nasib. Mata ku sedikit tertahan melihat Tinus dan Aleks tengah asyik merapikan kereta, ternyata jualan mereka telah habis. Aku sengaja mendiamkan diri tak memanggil, melihat reaksi mereka pada ajakan dan iklan ku tadi.

Nampak Tinus dan Aleks saling memberi aba-aba, berdialog dalam bisu, keduanya saling memberi isyarat, siapa yang akan lebih dulu menuju pintu Rumah Singgah KoAR. Aku pura-pura masuk ke dalam agar tak terkesan menghalangi pintu, Tinus masuk lebih awal, sebelum akhirnya kembali keluar dan menarik rekannya. Terdengar dialek Timor kental keluar dari mulut Tinus dengan nada mengajak, “mari”. Aku keluar dan menyapa, “Aleks mari su (ayo mari) jangan malu-malu, itu ada Ama tu (itu ada Ama) mari ko (supaya) belajar sama-mama deng (dengan) Ama” .

Ama hanya tersenyum menampakan sederet gigi depannya yang ompong, sambil mengayunkan tangan mengajak. Tinus dan Aleks akhirnya masuk dan langsung bercengkrama dengan buku-buku di perpustakaan Rumah Singgah KoAR. Sesekali senyum nampak diwajah mereka saat memegang dan membaca buku yang ada, mungkin inilah saat dimana aku harus berhenti mengamati mereka dan membiarkan mereka melepas rindu dengan buku yang mungkin sudah cukup lama mereka tinggalkan.