Beta Agama Apa ?

Nusa Tenggara Timur

Suasana Belajar di Rumah Singgah KoAR

“Tius, ini hari ketong belajar, Kurnia, mari su (sudah) ibu Ona su mau datang, we (hai) mari su jang (jangan) bermain lai (lagi), ini malam ketong (kita) belajar” jelas Yoakhim pada anak-anak lainnya.

Tius masuk lebih awal, diikuti Tom dan lainnya. sementara Yoakhim seperti sedang menggiring dari belakang.

Bergegas ruangan depan Rumah Singgah KoAR mereka rapihkan, meja dari ban bekas segera diatur berjajar.

Para pekerja anak di Pasar Kasih Naikoten I Kupang, hari ini akan memulai kelas belajar mereka.

Ona tersenyum, saat tiba Pukul 19.11 WITA, mendapati murid-muridnya berkumpul menanti.

Sebelum proses belajar dimulai, Ona meminta salah seorang diantara mereka memimpin doa dan lainnya mengikuti tata cara berdoa menurut agamanya masing-masing.

Suasana tiba-tiba hening, walaupun mata mereka terpejam, mimik kebingungan tak bisa disembunyikan dari wajah mereka, yang baru hilang Yoakhim mengatakan “Amin”.

Ona sejak tadi menunggu ada suara keluar selain kata amin. Rasa ingin tahu membuatnya bertanya, dengan caranya sendiri.

“karena tadi kita sudah berdoa, sekarang kita akan belajar menulis agama kita masing-masing. Nah sekarang, Yoakhim. Ibu mau tanya, Yoakhim agama apa?”

Yoakhim menatap bingung, sambil menggaruk rambut dengan tangan kanannya.

“nanti beta (saya) tanya bapak (ayah) do (dulu) ibu, kira-kira beta agama apa?” suara Yoakhim memecah diam.

“Kalau Tius agama apa?” Ona kembali bertanya pada Tius, yang sejak tadi kelihatan bingung memandangi tingkah Yoakhim.

ibu nanti kalau Yoakhim su (sudah) tau (tahu) dia agama apa, beta ikut dia saja ibu”. Jawab Tius memelas.

Ona lanjut bertanya pada lainnya, “ada yang tahu dia agama apa?”

“ketong (kami) pung (punya) agama ikut Yoakhim sa (saja) ibu” jawab Robi yang diiyakan temannya yang lain dengan anggukan kepala.

Bertanya ku dalam hati, apakah terlalu sibuk mereka bekerja diusianya, hingga tak sempat mengenal apa atau siapa itu agama? Ataukah agama yang terlalu sibuk menuju sorga hingga melupakan mereka?

Mungkin pertanyaan ku akan dikritik habis kelompok agamais, tapi sebelum kritikan itu terdengar, aku hanya ingin menceriterakan realitas ini.

Semoga realitas ini tidak ditanggapi penyangkalan, tapi dengan sebuah pemikiran, bahwa lembaga agama perlu turun dari atas mimbar ke jalanan dan pasar ini.

Ibadah tak hanya menjanjikan sorga dan mencela kemiskinan sebagai upah dosa, tapi kembali menguatkan mereka bahwa mereka tidak sendiri, karena memiliki sesamanya yang peduli karena beragama.

Oleh : Jan P. Windy

Baca Juga :

  1. Yoakhim dan Huruf “S”
  2. Tabungan Gayus
  3. Alon dan Rp. 1000,-
  4. Galon untuk Sekolah
  5. Jurnal Relawan