****
Hari sudah sore, saat Alon menyapa ku yang sedang menikmati segelas kopi di ruang depan Rumah Singgah KoAR. Alon datang bersama Yoakhim dan Epi.
Mereka masuk, bergabung bersama Ama dan Aldo yang sudah datang lebih awal. Dalam hitungan detik, langsung saja tawa ramai menghentikan kesunyian yang sejak tadi ku rasakan. Maklum saja, sejak pagi hanya aku ditinggal sendiri di tempat ini.
Teman-teman lain sementara bergelut dengan aktivitasnya di tempat lain. Ada yang kuliah, KKN dan ada yang bekerja hingga yang menyempatkan diri mengunjungi rumah mereka masing-masing.
Gelak tawa Alon dan teman-temannya seakan tak peduli lelah yang dirasakan seharian, berjualan kantong kresek dan bekerja di Pasar.
Terhimpit diantara Yoakhim dan Epi, Alon duduk menyilangkan kaki sambil merapikan sisa kresek jualannya.
Bocah yang kini duduk di bangku Kelas 4 SDN Naikoten ini, tersenyum saat mengeluarkan setumpuk uang dari kantong kanan celana pendek coklat yang ia gunakan.
Dengan suara yang sengaja diperkeras, ia mulai menghitung lembar demi lembar rupiah ditangannya.
1000….2.000…….4000…….9.000…..14.000……19.000……39.000…….49.000. volume suaranya seakan ingin memamerkan ke teman-temannya, berapa rupiah ia hasilkan hari ini.
“ka Yanto, tolong simpan beta (saya) pung (punya) doi (uang) do (dulu)”. Pintanya kepada ku.
Dengan nada sedikit menyesal, Alon menjelaskan bahwa hari ini ia hanya membawa pulang Rp. 49.000 untuk ditabung. Sebenarnya ia bisa membawa Rp. 59.000 untuk di tabung. Tetapi Rp. 10.000 telah ia gunakan untuk makan siang.
Alon memang rajin menabung, ia memiliki rekening tabungan sendiri, walau masih atas nama ibunya. Rencananya uang yang ia titipkan ini akan diserahkan pada ibunya besok pagi untuk ditabung untuk biaya sekolahnya.
Aku kebingungan, bukan karena Alon rajin menabung. Tapi karena hitungan jumlah uang Alon tadi.
Alon pernah ku ajari berhitung 1 hingga 10. Alon pasti selalu salah berhitung.
Apalagi jika ku ajak menjumlahkan angka atau mengurangi angka. Alon pasti melarikan diri.
Tapi hari ini Alon menghitung uang dengan cepat dan tepat, menjumlahkan dan menguranginya pada angka ribuan tanpa kesalahan. Alon pasti sudah pintar berhitung.
Aku yang penasaran dengan kebingungan ku bertanya, “Alon kalau 10 tambah 1 berapa?”
Sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, Alon menjawab : “tidak tahu kaka Yanto”.
“Kalau 2 tambah 5 ?” tanya ku lagi.
“Tidak tahu kaka” jawabnya seperti ingin segera beranjak dari dari hadapan ku.
“Kalau Rp.1000 tambah Rp. 1000?” tanya ku penasaran.
“Rp. 2000 kaka!” jawab Alon spontan.
“Kalau Rp. 500 tambah Rp. 500 ?” tanya ku lagi.
“Rp. 1000 ee kaka”. Jawabnya seperti menjelaskan kepada ku.
Sambil tersenyum, ia berlalu kembali bergabung dalam tawa bersama 4 temannya.
Aku bertambah bingung, berpikir, apa aku salah mengajarkannya atau dia yang salah? Apa tadi aku salah mendengar?, atau Alon sudah belajar lebih jauh dari apa yang pernah ku ajarkan padanya?
Kebingungan ini sementara ku akhiri dengan asumsi : mungkin karena beraktivitas di pasar setiap hari, Alon lebih akrab dengan angka dalam bentuk uang, bukan angka dalam bentuk satuan ataupun puluhan. Alon lebih bisa hitung uang.
Oleh : Yanto Pandu


kondisi membuat org akan lbh familiar dgn apa yg setiap hari dijalani, alon belajar dgn caranya sendiri..
Alon bisa karena terbiasa…
jika kita memandang dari jauh, maka yang kita lihat adalah aktifitas biasa, tapi kalau dilihat dari sisi yang lebih kritis maka perlu diangkat sebagai sebuah kondisi sosial memerlukan penanganan.
Tulisan yang manis dan mengharukan Yanto. Tak sangka dikau bisa menulis… terus menulis ya.., ditunggu kisah Alon yang lain..
Yanto sudah mulai, semoga kawan-kawan KoAR yang lain juga mau mulai menulis… Salam buat Alon dan Joachim yah…
dimulai dari hal kecil, kita dapat memberikan sesuatu yang akan sangat bermakna tanpa diduga sebelumnya…Om yanto talalu mantaplah…
ayo mulai menulis tentang realitas disekitar kita
Salut buat teman2 di KoaR…
SEMANGAT ^^