Kisah Jeri dan Angin

Nusa Tenggara Timur

Relawan KoAR Saat Mengunjungi Kampung Kelapa Tinggi Tanggal 21 Januari 2012 Sehabis Badai Angin

****

Mama…… mama ……… mama ……. Jeri lari ketakutan tak kala sebagian atap rumahnya terbang dan bersahabat dengan tanah.

Ibunya berlari keluar diikuti saudaranya yang lain. Uce menatap bingung dan ketakutan. Berpelukan, bukan untuk meniru teletabis.

Sang ibu merangkul anak-anaknya memberi sedikit ketenangan.

Teriakan bergaung 19 Januari 2012. Ternyata bukan hanya rumah Jeri yang kehilangan atap sore itu. Tanta Ema, mama Banamtuan, dan tetangga lainnya juga sementara berada di luar berhujan-hujanan. Rumah mereka juga tak kuat berduel dengan badai aingin sore itu di Kampung Kelapa Tinggi.

Hujan dan badai angin kompak sore itu menghantam 38 rumah di kampung Kelapa Tinggi dan perkampungan penduduk lain di Mata Air dan Desa Noelbaki Kabupaten  Kupang.

Mama Ufi pasrah melihat rumahnya rata dengan tanah, pohon-pohon berjatuhan, sayuran yang ditanam tercabut berpisah dengan tanah.

Suasana perkampungan 58 Kepala Keluarga yang tiap tahun dilanda banjir, kini kedatangan angin badai sebagai tamu baru sore itu.

Sumber : Catatan Lapangan KoAR

Baca Juga : Aksi 1 Kg Beras Sumbang Korban Banjir