Tabungan Gayus

Nusa Tenggara TimurHari ini Adrian mengambil tabungannya kembali, kemarin To lebih dulu mengambil. Wanter menginformasikan hal tersebut saat aku tiba siang itu.

“Tak apa, masih ada 3 anak yang menabung”, jawab ku.

Aku pergi, ada janji dengan teman yang ingin mampir di KoAR tapi tidak tahu alamat persis, sehingga harus dijemput di depan jalan masuk.

Sekembalinya bersama teman, seorang wanita separuh baya sedang berdiri di depan pintu Rumah Singgah KoAR sambil memegang tangan Abner yang biasa kami sapa Gayus.

Aku menghampiri, bersalaman memperkenalkan diri pada wanita itu.

“saya mamanya Abner, mama mau ambil uang Abner di kaka dong”, sambung wanita tadi membalas perkenalan ku.

“Oo iya, ada, dia memang ada tabung, bisa lihat jumlahnya di Wanter”. Jawab ku sedikit kecewa.

Gayus terdiam sambil menggaruk kepalanya menatap murung kearah ku.

Aku membelai rambutnya, beberapa titik air matanya sempat membekas dipergelangan tangan kanan ku, membuat ku sadar, ia tak rela tabungannya diambil. Tabungan itu di simpan untuk mendaftar masuk sekolah lagi.

Perasaan kesal, marah dan sedih berkecamuk dalam dada. Ingin rasanya membentak wanita ini, bila tak ingat kalau dia adalah ibu Abner.

Ia sedikit menjauh dari aku dan ibunya, bersilah menumpukan wajah pada lututnya.

Yoakhim menarik tangan ku, menunjuk Gayus yang terlihat sedang menangis.

Ku ajak wanita itu masuk ke ruang depan, meminta Wanter membuat print out daftar tabungan anak-anak.

“mama mau ambil tabungan Abner untuk beli obat karena dia ada sakit”, jelas wanita itu.

Aku mengiyakan, walaupun tak percaya, mengingat Gayus sementara berada diluar dan sejak kemarin bersama kami dalam keadaan sehat. Ada juga ceritera dia dan kakaknya yang sering dipukul bila pulang ke rumah tak membawa uang.

Aku menunjukan daftar yang dibuat Wanter pada wanita itu. Ia nampak kaget melihat jumlah yang tertera dalam daftar. Rp. 15.000, dan disampingnya ada angka Rp. 10.000.

“Mama hanya boleh ambil Rp. 15.000, itu tabungan Abner, 10.000 itu bunga yang kami tambahkan setiap bulan buat setiap anak yang menabung, kalau ambil sekarang bunganya tidak kami berikan, bunga akan diberikan untuk mendaftar sekolah”. Jelas ku

“jadi kaka dong potong b pung anak pung uang ko?” sambungnya terdengar marah.

“tidak, jumlah tabungan Abner memang baru Rp. 15.000, dia juga baru 2 hari menabung untuk nanti mau daftar sekolah, 10.000 itu uang kami yang sengaja ditambahkan setiap bulan, tapi hanya boleh diambil untuk mendaftar sekolah bila dia terus menabung”, balas ku menjelaskan sedikit emosi.

Wanter memberikan uang  Rp. 15.000 kepada wanita itu yang kemudian berlalu sambil menarik tangan  Gayus ikut berjalan bersamanya

Mendekati pagar, Gayus berbalik menatap ku, jelas terlihat ia meneteskan air mata.

Kini harapannya untuk mendaftar sekolah telah terengut. Teman ku menepuk pundak ku, menyadarkan  dari diam.

Kini Gayus jarang bermain di Rumah Singgah KoAR.

Tulisan ini sengaja ku buat, guna mengingat semangat Abner yang kami sapa Gayus untuk kembali sekolah.

Mungkin tabungan itu belum bisa mengambalikannya ke sekolah. Tapi aku yakin semangatnyalah  yang akan mengantarnya kembali bersekolah.

Aku percaya ada jalan untuk itu, jalan yang masih belum ditemukan. Ada jalan yang menunggu untuk ditemukan Abner,  aku dan kamu atau siapa saja yang membaca tulisan ini.

Oleh : Jan Windy

Ceritera Berhubungan :

  1. Galon untuk Sekolah
  2. Ceritera untuk Yoakhim
  3. Mengenal Yoakhim
  4. Yoakhim dan Huruf “S”
  5. Boni dan Mimpinya untuk Kembali Sekolah
  6. Boni : “Beta Sekolah Sa”
  7. Tangan Kecil dibalik Kereta