Makanan Kami, 30 Tahun Hilang

Nusa Tenggara Timur

Foto Bersama Mama Tata Setelah Menanam Shorgum di Oelatimo

****

Bersama Maria Loretha, yang akrab disapa Mama Tata pagi itu, kami pergi ke Desa Oelatimo.

Mama Tata adalah petani yang cukup lama berburu bibit dan mengembangkan shorgum di Adonara. Hingga kini 13 jenis bibit shorgum berhasil ia kumpul dan kembangkan.

Siang itu, mama Tata sengaja datang bersama kami, untuk memperkenalkan kembali shorgum, makanan khas NTT yang telah lama hilang, serta bersama petani mencoba mengembangkannya di Desa Oelatimo.

Para petani yang berkumpul terlihat bingung, mama Pina bertanya, bagaimana caranya mama Tata bisa mengumpulkan bibit-bibit itu?

Bukan tanpa alasan pertanyaan itu keluar dari mulut mama Pina. Menurut Hendrik Suan,  petani yang juga tokoh masyarakat Desa Oelatimo, lebih dari 30 tahun tanaman itu tidak pernah mereka lihat.

“dulu saat masih kecil, saya dikasih orang tua makan itu. Tapi sekarang lihat saja tidak pernah, apalagi makan. Sudah 30an tahun kami tidak pernah lihat lagi tanaman ini”. ujar Hendrik.

Sebagian petani datang mendekat. Dengan wajah bertanya, tangan mereka menggenggam bibit yang dibawa mama Tata.

Mama Pina berbinar, seperti menemukan sesuatu yang lama ia rindukan. Adam, terus menatap butiran bibit shorgum digenggamannya.

Ada sekitar 25 jenis shorgum yang berbeda, sebagian besar jenis dikenal masyarakat Oelatimo dengan sebutan “Bukak”. Untuk jenis yang biasa dikenal sebagai Jewawut, masyarakat Oelatimo menyebutnya “Sain”. Ada juga jenis Jelai, di Oelatimo disebut “Sone”.

Mama Tata menjelaskan bahwa shorgum memiliki nilai gizi lebih tinggi dari beras. Shorgum berkhasiat mengobati luka dalam dan baik dikonsumsi ibu yang sedang menyusui untuk menambah volume ASI.

Kami mulai membersihkan lahan, mengatur jarak dan letak tanam, kemudian mulai menanam.

Ada 3 jenis shorgum yang kami tanam. Shorgum merah, coklat, dan putih. Ketiga jenis tersebut oleh masyarakat Oelatimo disebut “Bukak”.

Selesai menanam, para petani yang hadir membagi jadwal menyiram di lahan percontohan. Jadwal hanya dibagi selama 2 minggu, karena setelah 2 minggu shorgum tak lagi butuh perawatan khusus.

“Bibit yang telah ditanam cukup disiram 2 minggu, sisanya biarkan alam yang mengatur dan kita hanya menunggu waktu panen saja”. Jelas mama Tata

“Shorgum dapat dipanen 3 kali, sekali panen 1 Ha bisa menghasilkan 7 Ton”, lanjutnya.

Penanaman kali ini, dimaksud untuk memperbanyak bibit dari hasil panen, sehingga dapat dikembangkan lebih luas lagi.

Selain ditanam pada lahan percontohan, bibit dibagikan juga pada petani yang hadir. Masing-masing mendapat bibit untuk lahan seluas ¼ Ha.

Mama Pina mengajak ku berfoto sambil memegang bibit shorgum. Petani lain juga ikut berfoto bersama.

Bersama mama Tata, hari itu terurai kembali kenangan, yang lebih dari 30 tahun telah terkubur. Sebuah kenangan tentang shorgum, tentang jagung rote, tentang Bukak, Sone dan Sain, makanan kami yang telah hilang dan kini kami temukan lagi.

Oleh : Jan Windy