****
Bocah itu terdiam saat kami tanyakan namanya, entah tak mendengar atau tidak mengerti apa yang di tanyakan.
Sempat kami berpikir bocah itu bisu atau mungkin saja tuli, karena apapun yang kami tanyakan selalu ditanggapi dengan diam.
Namanya Yoakhim, Eja pria separuh baya yang biasa berjualan di depan Rumah Singgah KoAR menginformasikan bahwa bocah 9 tahun itu adalah anak lelakinya yang bungsu dari 3 bersaudara.
Aki, sapaan bocah itu, memang tak banyak bicara. Selain sangat pendiam, ia tidak begitu mengerti bahasa indonesia.
Sudah seminggu Aki tinggal bersama Eja di sebuah lapak berukuran 1 x 1,5 meter beratapkan spanduk bekas dan ditemani barang-barang jualan.
Eja memboyong Aki dari Bajawa ke Kupang agar dapat membantunya berjualan. Seingat Aki, ia pernah bersekolah dan menggunakan seragam saat Taman Kanak-kanak di Desa Wonoari, Bajawa.
Pakaian yang digunakan Aki selalu sama sejak awal kami melihatnya. Tak ada sandal yang ia gunakan hingga suatu saat sebuah paku karat menembus kaki kirinya dan ia terbaring sakit selama 4 hari.
Saat sembuh, kami memaksa Eja agar Aki tidur di Rumah Singgah, minimal sedikit lebih nyaman dibanding harus berdesakan dengan jualan di lapak dan kedinginan malam hari.
Keseharian Aki selalu menyendiri. Ia tak bermain bersama anak seusianya, ceria jarang tergores di wajahnya. Ketika anak lainnya bermain, berlari-larian dan bernyanyi, Aki tak ada bersama mereka. Ia tersenyum menatap dari kejauhan. Namun, raut senyumnya segera berubah muram ketika anak lain melihat kearahnya.
Kami mengenalkan Aki pada anak-anak lain. Meminta mereka melibatkan Aki dalam permainan dan mengajaknya meilihat buku-buku di Perpustakaan Rumah Singgah KoAR.
Wanter membelikan 3 pasang pakaian dan sepasang sandal untuk Aki, mengajarkannya mandi 2 kali sehari serta harus selalu berganti pakaian dan mencuci sendiri pakaian yang telah ia gunakan.
Kini Aki menjadi penghuni Rumah Singgah KoAR, memiliki teman untuk bermain, memiliki Wanter untuk berceritera dan berbagi serta memiliki waktu untuk mengembalikan kesadaran bahwa ia butuh belajar seperti teman seusianya dan memiliki harapan tersenyum ceria.
Oleh : Jan Windy

