***
7 bocah bersemangat menonton pertandingan sepak bola pada salah satu stasiun televisi swasta malam itu. Namun berapa menit berselang, serempak mereka meninggalkan layar televisi di ruang tengah Rumah Singgah KoAR.
“Kenapa tidak nonton lagi” tanya ku heran membandingkan semangat mereka tadi dengan wajah-wajah lesu mereka kini.
“Indonesia su (sudah) kalah kak, jadi ketong (kami) su (sudah) malas nonton” jawab Adrian, kemudian kembali bergumul bersama temannya yang lain.
Wanter mengajak mereka berceritera, mengingatkan pembicaraan mereka siang tadi tentang kembali bersekolah .
“karmana (bagaimana) besong (kalian) masih tetap mau sekolah?”
“ia kaka” jawab mereka lantang.
Bersama Wanter, mereka bersilah di ruang depan, membicarakan bagaimana caranya kembali bersekolah. Dimulai dengan sekolah mana yang disenangi?mengapa mereka senang untuk bersekolah disana? dan apakah mereka sudah siap bersekolah lagi?
Nama sekolah tidak disepakati, mereka hanya ingin sekolah yang dekat dengan wilayah pasar tempat mereka beraktivitas selama ini, alasannya, biar bisa berjualan sepulang sekolah agar tetap punya uang sehingga kalaupun sekolah dapur rumah tetap mengepul dan bila sekolahnya dekat, mereka tidak perlu tambahan biaya transportasi.
Pembicaraan berlanjut pada biaya masuk sekolah. Topik ini membuat suasana tiba-tiba menjadi hening. Sepertinya topik ini tidak ingin mereka bahas.
Aku yang sejak tadi menguping pembicaraan mereka kemudian teringat program beasiswa yang sering diiklankan.
Pikiran ku cepat terhenti, mengingat hampir keseluruhan beasiswa diperuntukan bagi anak-anak yang bersekolah, itupun melihat prestasi mereka.
Bagaimana bisa mendapatkan beasiswa? sekolah saja mereka belum mampu mendaftar karena kesulitan biaya. Sudah pasti tak mungkin ada prestasi sehingga mereka bisa mendapatkan beasiswa yang katanya diutamakan bagi anak kurang mampu.
Keheningan terpecah saat Ernos berteriak mengkampanyekan idenya dengan nada menerangkan kepada Wanter.
“Begini kak, kan ketong (kami) bajual (berjualan) di pasar, jadi setiap hari ketong tabung di kak dong (kakak-kakak), kalau su (sudah) banyak ketong (kami) bisa daftar masuk sekolah kak”.
Keesokan sorenya Wanter menginformasikan pada ku bahwa 5 anak sudah mulai menabung. Sebuah galon sengaja didesain Wanter sebagai celengan dan untuk informasi tabungan, Wanter membuat daftar exel yang selalu ditunjukan, agar para penabung tahu berapa jumlah tabungan mereka terakhir.
Kini mereka memiliki sebuah galon yang akan mengantar mereka kembali ke sekolah dengan kekuatan sendiri.
Oleh : Jan Windy
Ceritera Lainnya :
2. Tangan Kecil Dibalik Kereta


sangat inspiratif ceriteranya
semoga mereka bisa kembali bersekolah lagi, mohon informasikan juga pada kami bila kami bisa terlibat dalam aksi untuk mengembalikan mereka ke sekolah ini.
kontak saya sudah saya kirim via sms pada nomor yang tertera pada halaman kontak KOAR. selamat berjuang teman-teman,