<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>KOAR &#124; Komunitas Akar Rumput NTT</title>
	<atom:link href="http://koarntt.org/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://koarntt.org</link>
	<description>www.koarntt.org</description>
	<lastBuildDate>Tue, 14 Aug 2012 14:32:57 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Beta Agama Apa ?</title>
		<link>http://koarntt.org/?p=416</link>
		<comments>http://koarntt.org/?p=416#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jun 2012 08:30:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>koar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal Relawan]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[KoAR]]></category>
		<category><![CDATA[Membaca]]></category>
		<category><![CDATA[NTT]]></category>
		<category><![CDATA[Ona]]></category>
		<category><![CDATA[Pekerja]]></category>
		<category><![CDATA[Pekerja Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Singgah]]></category>
		<category><![CDATA[Sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[Yoakhim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://koarntt.org/?p=416</guid>
		<description><![CDATA[“Tius, ini hari ketong belajar, Kurnia, mari su (sudah) ibu Ona su mau datang, we (hai) mari su jang (jangan) bermain lai (lagi), ini malam ketong (kita) belajar” jelas Yoakhim...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_418" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://koarntt.org/wp-content/uploads/2012/06/Beta-Agama-Apa1.jpg"><img class="size-full wp-image-418 " title="Beta-Agama-Apa" src="http://koarntt.org/wp-content/uploads/2012/06/Beta-Agama-Apa1.jpg" alt="Nusa Tenggara Timur" width="600" height="443" /></a><p class="wp-caption-text">Suasana Belajar di Rumah Singgah KoAR</p></div>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>“Tius, ini hari ketong belajar, Kurnia, mari su (sudah) ibu Ona su mau datang, we (hai) mari su jang (jangan) bermain lai (lagi), ini malam ketong (kita) belajar”</em> jelas Yoakhim pada anak-anak lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tius masuk lebih awal, diikuti Tom dan lainnya. sementara Yoakhim seperti sedang menggiring dari belakang.</p>
<p style="text-align: justify;">Bergegas ruangan depan Rumah Singgah KoAR mereka rapihkan, meja dari ban bekas segera diatur berjajar.</p>
<p style="text-align: justify;">Para pekerja anak di Pasar Kasih Naikoten I Kupang, hari ini akan memulai kelas belajar mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Ona tersenyum, saat tiba Pukul 19.11 WITA, mendapati murid-muridnya berkumpul menanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum proses belajar dimulai, Ona meminta salah seorang diantara mereka memimpin doa dan lainnya mengikuti tata cara berdoa menurut agamanya masing-masing.</p>
<p style="text-align: justify;">Suasana tiba-tiba hening, walaupun mata mereka terpejam, mimik kebingungan tak bisa disembunyikan dari wajah mereka, yang baru hilang Yoakhim mengatakan “Amin”.</p>
<p style="text-align: justify;">Ona sejak tadi menunggu ada suara keluar selain kata amin. Rasa ingin tahu membuatnya bertanya, dengan caranya sendiri.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>“karena tadi kita sudah berdoa, sekarang kita akan belajar menulis agama kita masing-masing. Nah sekarang, Yoakhim. Ibu mau tanya, Yoakhim agama apa?”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Yoakhim menatap bingung, sambil menggaruk rambut dengan tangan kanannya.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>“nanti beta (saya) tanya bapak (ayah) do (dulu) ibu, kira-kira beta agama apa?”</em> suara Yoakhim memecah diam.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Kalau Tius agama apa?” </em>Ona kembali bertanya pada Tius, yang sejak tadi kelihatan bingung memandangi tingkah Yoakhim.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;">“<em>ibu nanti kalau Yoakhim su (sudah) tau (tahu) dia agama apa, beta ikut dia saja ibu”.</em> Jawab Tius memelas.</p>
<p style="text-align: justify;">Ona lanjut bertanya pada lainnya, <em>“ada yang tahu dia agama apa?”</em></p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>“ketong (kami) pung (punya) agama ikut Yoakhim sa (saja) ibu”</em> jawab Robi yang diiyakan temannya yang lain dengan anggukan kepala.</p>
<p style="text-align: justify;">Bertanya ku dalam hati, apakah terlalu sibuk mereka bekerja diusianya, hingga tak sempat mengenal apa atau siapa itu agama? Ataukah agama yang terlalu sibuk menuju sorga hingga melupakan mereka?</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin pertanyaan ku akan dikritik habis kelompok agamais, tapi sebelum kritikan itu terdengar, aku hanya ingin menceriterakan realitas ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga realitas ini tidak ditanggapi penyangkalan, tapi dengan sebuah pemikiran, bahwa lembaga agama perlu turun dari atas mimbar ke jalanan dan pasar ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibadah tak hanya menjanjikan sorga dan mencela kemiskinan sebagai upah dosa, tapi kembali menguatkan mereka bahwa mereka tidak sendiri, karena memiliki sesamanya yang peduli karena beragama.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Oleh :</strong> Jan P. Windy</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Baca Juga :</strong></p>
<ol>
<li><a title="Yoakhim dan Huruf &quot;S&quot;" href="http://koarntt.org/?p=283" target="_blank">Yoakhim dan Huruf &#8220;S&#8221;</a></li>
<li><a title="Tabungan Gayus" href="http://koarntt.org/?p=295" target="_blank">Tabungan Gayus</a></li>
<li><a title="Alon dan Rp. 1000,-" href="http://koarntt.org/?p=339" target="_blank">Alon dan Rp. 1000,-</a></li>
<li><a title="Galon untuk Sekolah" href="http://koarntt.org/?p=240" target="_blank">Galon untuk Sekolah</a></li>
<li><a title="Jurnal Relawan" href="http://koarntt.org/?cat=5" target="_blank">Jurnal Relawan</a></li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://koarntt.org/?feed=rss2&#038;p=416</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yorince&#8230;.Ibu Terus Berharap?</title>
		<link>http://koarntt.org/?p=361</link>
		<comments>http://koarntt.org/?p=361#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2012 13:45:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>koar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Agency]]></category>
		<category><![CDATA[Apjati]]></category>
		<category><![CDATA[Gasindo]]></category>
		<category><![CDATA[Gasindo Bualasari]]></category>
		<category><![CDATA[Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[Mella]]></category>
		<category><![CDATA[Perdagangan Orang]]></category>
		<category><![CDATA[PJTKI]]></category>
		<category><![CDATA[PTKIS]]></category>
		<category><![CDATA[Tenaga Kerja Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[TKI]]></category>
		<category><![CDATA[TKW]]></category>
		<category><![CDATA[Trafficking]]></category>
		<category><![CDATA[Yorince]]></category>
		<category><![CDATA[Yorince Mella]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://koarntt.org/?p=361</guid>
		<description><![CDATA[**** Takkan henti jarum jam berputar, hitungan hari juga tak boleh berhenti di Hari Minggu. Jarak tak boleh berhenti sampai ratusan kilo meter. Rindu Audelia terus memacu waktu, hari dan...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_362" class="wp-caption aligncenter" style="width: 530px"><a href="http://koarntt.org/wp-content/uploads/2012/05/Yorince-Agustina-Mella.jpg"><img class="size-full wp-image-362 " title="Yorince-Agustina-Mella" src="http://koarntt.org/wp-content/uploads/2012/05/Yorince-Agustina-Mella.jpg" alt="Yorince Yuliana Agustina Mella" width="520" height="390" /></a><p class="wp-caption-text">Audelia Tak Pernah Berhenti Berharap Bertemu Anaknya</p></div>
<p>****</p>
<p style="text-align: justify;">Takkan henti jarum jam berputar, hitungan hari juga tak boleh berhenti di Hari Minggu. Jarak tak boleh berhenti sampai ratusan kilo meter. Rindu Audelia terus memacu waktu, hari dan jarak untuk bertemu Yorince anaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Siang itu putus asa hampir menguasainya. Seluruh tempat ia mengadu hanya menghasilkan tambahan kekecewaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedikit bahagia mendengar kabar, Komnas HAM RI, telah menerima pengaduan, tentang anaknya yang hilang, dengan nomor pengaduan 70.516. Namun keberlanjutan pengaduan tersebut dan berbagai laporan yang telah ia layangkan pada berbagai pihak tak ada perkembangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Air mata hampir mengering. Ingin rasanya mengucapkan makian pada nasib. Tapi untuk apa? Itu takkan mengantar Yorince pada pangkuannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Batinnya bergejolak, mendengar kabar Rosa Tanone, teman Yorince pulang dari Malaysia.</p>
<p style="text-align: justify;">12 Desember 2010, Audelia menuju Camplong, tempat tinggal Rosa, sekedar ingin tahu apakah Rosa pernah bertemu anaknya di Malaysia.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedikit ceritera Rosa membangkitkan lagi semangat dan kerinduan. Rosa menceriterakan, ia pernah bertemu Yorince pada Bulan Oktober 2010, saat akan pulang dari Malaysia.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertemuan itu berlangsung di Agensi Pekerjaan MN SDN BHD (392142-T), yang beralamat di Jalan SS 21/35, Damansara Utama, 47400 Pataling Jaya, Selangor Darul Ehsan,  dengan Nomor Telephone 03-7722 2333.</p>
<p style="text-align: justify;">Batin Audelia berkecamuk. Anaknya Yorince masih berada di Malaysia. Berbeda dengan yang disampaikan PT. Gasindo Bualasari bahwa anaknya berada di Indonesia. Lalu, dengan siapa saat itu PT. Gasindo Bualasari memfasilitasinya berbicara di telephone?</p>
<p style="text-align: justify;">Rosa menceriterakan, Yorince melarikan diri dari majikan yang ditempatkan PT Gasindo Bualasari karena sering disiksa dan tak pernah diberi upah selama bekerja.</p>
<p style="text-align: justify;">Segera Audelia mengisi pulsa HP, mencoba menelephone nomor yang diberikan Rosa. Berulang kali dicoba, nomor yang dituju selalu sibuk. Sekali berhasil ia hubungi, pembicaraan singkat terjadi, Audelia menanyakan apakah disana ada tenaga kerja wanita bernama Yorince Mella? Si penerima telephone hanya menjawab tak mengenal. Dalam keputusasaannya ia berpesan pada penerima telephone, apakah bisa mengecek lagi? Besok ia akan menelphone kembali. Bukannya jawaban yang ia terima, telephone langsung dimatikan dari seberang.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena jaringan seluler tidak menjangkau Desa Netemnanu, esok harinya Audelia menumpang ojek dari Netemnanu ke Camplong agar bisa menelephone lagi. Hasil yang didapat selalu sama, tidak ada tenaga kerja dengan nama Yorince Mella. Begitu seterusnya hingga ia kembali menelephone dan selalu mendengarkan jawaban yang sama, kadang ia dibentak dari seberang.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat bertemu, Rosa menginformasikan bahwa kadang perusahaan yang mengirimkan tenaga kerja mengganti nama si tenaga kerja, bahkan memalsukan identitasnya hingga usia.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin inilah alasan mengapa si penerima telephone tak mengenal anaknya Yorince, pikir Audelia.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak terhitung berapa kali ia menelephone, menerima jawaban yang sama dan kembali ke kampung dengan kekecewaan yang sama. Audelia akan terus berusaha menemukan anaknya. Mungkin hari ini tidak, besok juga tidak. Tapi ia yakin suatu saat Yorince akan ia temukan, memeluknya dan berkata “jangan pergi lagi anak ku”.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oleh : <em>Jan Windy</em></p>
<p><strong>Baca Juga :</strong> <a title="Kembalikan Anak Kami" href="http://koarntt.org/?p=354" target="_blank">Kembalikan Anak Kami</a></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://koarntt.org/?feed=rss2&#038;p=361</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kembalikan Anak Kami</title>
		<link>http://koarntt.org/?p=354</link>
		<comments>http://koarntt.org/?p=354#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2012 09:27:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>koar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Apjati]]></category>
		<category><![CDATA[Gasindo Bualasari]]></category>
		<category><![CDATA[Hilang]]></category>
		<category><![CDATA[Malaysia]]></category>
		<category><![CDATA[NTT]]></category>
		<category><![CDATA[Perdagangan Orang]]></category>
		<category><![CDATA[PJTKI]]></category>
		<category><![CDATA[PTKIS]]></category>
		<category><![CDATA[Tenaga Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[Tenaga Kerja Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Tenaga Kerja Wanita]]></category>
		<category><![CDATA[TKI]]></category>
		<category><![CDATA[TKW]]></category>
		<category><![CDATA[Trafficking]]></category>
		<category><![CDATA[Yorince Mella]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://koarntt.org/?p=354</guid>
		<description><![CDATA[**** Tak kuat rasanya menahan rindu, tak sanggup menghitung lama waktu dihabiskan Audelia Abuk bermimpi bertemu anaknya Yorince Agustina Mella. November 2007, Mince Mone petugas lapangan PT. Gasindo Bualasari Cabang...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_355" class="wp-caption alignnone" style="width: 660px"><a href="http://koarntt.org/wp-content/uploads/2012/05/Yorince-Yuliana-Agustina-Me.jpg"><img class="size-full wp-image-355" title="Yorince-Yuliana-Agustina-Mella" src="http://koarntt.org/wp-content/uploads/2012/05/Yorince-Yuliana-Agustina-Me.jpg" alt="TKW Hilang" width="650" height="488" /></a><p class="wp-caption-text">Audelia Abuk ditemani Suaminya Zakharias Mella | Insert : Foto Terakhir Yorince Mella</p></div>
<p style="text-align: justify;">****</p>
<p style="text-align: justify;">Tak kuat rasanya menahan rindu, tak sanggup menghitung lama waktu dihabiskan Audelia Abuk bermimpi bertemu anaknya Yorince Agustina Mella.</p>
<p style="text-align: justify;">November 2007, Mince Mone petugas lapangan PT. Gasindo Bualasari Cabang Kupang, membawa anaknya ke Kota Kupang untuk diberangkatkan sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) ke Malaysia.</p>
<p style="text-align: justify;">Lama tak ada kabar sejak Yorince diberangkatkan ke Malaysia, Audelia tak kuasa menahan rindu. Tahun 2009, bersama suaminya Zakharias, Audelia bolak-balik dari Desa Netemnanu-Amfoang Timur, ke Kota Kupang menanyakan kabar anaknya pada petugas PT. Gasindo Bualasari.</p>
<p style="text-align: justify;">Februari 2009, permintaannya difasilitasi berkomunikasi dengan Yorince tidak dilayani. Terjadi pergantian pimpinan cabang PT. Gasindo dari Helena ke Udin.</p>
<p style="text-align: justify;">Udin meminta Audelia pulang, dengan janji akan menginformasikan keberadaan Yorince pada Audelia setelah mengecek ke Malaysia.</p>
<p style="text-align: justify;">Lama menunggu, Udin tak menepati janji. Hingga Mei 2009, Audelia tak mau lagi menunggu. Bersama Zakharias suaminya, Audelia kembali mendatangi kantor cabang PT. Gasindo Bualasari, dan kemudian pulang dengan kekecewaan saat Udin kembali berjanji.</p>
<p style="text-align: justify;">Bosan dengan janji-janji manis Udin, 2 Juni 2009, Audelia ditemani puluhan kerabat mendatangi kantor cabang PT. Gasindo Bualasari di seputaran Bundaran PU Kupang.</p>
<p style="text-align: justify;">kerinduan memeluk anak gadisnya tak sanggup lagi ia tahan. Ia tak mau lagi mendengarkan janji.</p>
<p style="text-align: justify;">Demonstrasi keluarga Audelia membuahkan hasil. Oleh Udin, mereka<strong> </strong>diberikan nomor kontak untuk berbicara dengan Yorince (021- 82401752) dan nomor HP 0811832547 milik Barisman, Dirut. PT. Gasindo Bualasari.</p>
<p style="text-align: justify;">Terisak, ia berbicara pada anaknya, menanyakan kabarnya&#8230; kapan anaknya pulang? Kapan ia dapat memeluk erat anaknya lagi?</p>
<p style="text-align: justify;">Suara dari seberang menyampaikan ia kini di Jakarta tak lagi berada di Malaysia.  Ia belum bisa pulang ke kampung karena kontraknya masih 6 bulan, dan sementara berada di rumah Barisman.</p>
<p style="text-align: justify;">Walau tak yakin tadi ia berbicara dengan Yorince, Audelia mengiakan saja. Mungkin karena lama tak bertemu, ia yang lupa bagaimana suara anaknya kini.</p>
<p style="text-align: justify;">Audelia menghubungi Barisman, dan mendapatkan kabar anaknya belum bisa pulang karna kontraknya belum selesai.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>”ibu, anak ibu belum bisa pulang karena kontraknya belum selsai, nanti Bulan Maret 2010 baru anak bapak bisa pulang karena kontraknya baru selesai bulan itu”.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Senang akan segera bertemu anaknya, Audelia menyanggupi. Sebelum ia menutup telephone, ia berpesan pada Barisman, anaknya harus dipulangkan Maret 2010, yang diiyakan Barisman.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Hari yang Ditunggu</strong></p>
<p style="text-align: justify;">3 Maret 2010, rasa rindu tak lagi bisa dibendung, walau sedang sakit, subuh itu Audelia membangunkan Zakharias suaminya agar bersamanya ke Kupang menjemput Yorince.</p>
<p style="text-align: justify;">Zakharias yang khawatir dengan kondisi kesehatan Audelia, meminta agar Audelia tetap tinggal di kampung, biar dia sendiri yang menjemput Yorince.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah menempuh kurang lebih 200 Kilo Meter dengan setengah perjalanan berjalan kaki, Zakharias tiba di Kantor Cabang PJTKI. Gasindo Bualasari.</p>
<p style="text-align: justify;">Udin membenarkan bahwa Yorince akan pulang, tapi akhir bulan dan nanti akan diantarkan perusahaan ke kampungnya di Netemnanu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Yorince Belum Pulang</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sudah 5 Agustus 2009, pagi itu saat Audelia terbangun dari mimpinya, Yorince pulang, memeluknya dan duduk dipangkuannya sambil berceritera.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia terbangun, duduk menangis disamping tempat tidur. Tangisannya membangunkan suaminya, yang memeluknya dan berjanji akan bersama ke Kupang mengecek keberadaan Yorince.</p>
<p style="text-align: justify;">18 Agustus 2009, berharap ada keberuntungan setelah merayakan kemerdekaan indonesia kemarin, Audelia bersama suaminya menuju Kota Kupang.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukannya beruntung dihari itu, Audelia terkulai lemas mendengar kabar anaknya hilang. Udin si kepala cabang, dengan acuhnya menyerahkan telephone pada Zakharias untuk berbicara dengan Barisman si Direktur.</p>
<p style="text-align: justify;">Barisman dari seberang menginformasikan, Yorince melarikan diri dari rumahnya dan ia tidak mengetahui dimana Yorince sekarang.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak terima, ditemani sang suami, Audelia melaporkan hal tersebut pada Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Nusa Tenggara Timur(NTT) dan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTT.</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir 1 tahun, tak ada kelanjutan dari laporan yang disampaikan. 27 September 2010 ditemani suaminya, Audelia melapor ke Polda NTT dengan Tanda Bukti Lapor LPB/237/IX/2010/NTT/DIT RESKRIM.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanggal 4 Oktober 2010 Audelia dan suaminya dihubungi Polda NTT. Ia ditunjukan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan, yang ditandatangani Drs. Lilik Apriyanto (Ajun Komisaris Besar Polisi, NRP 67040493), namun surat itu hanya boleh dibaca, tidak boleh dibawa pulang oleh Audelia dan Zakharias.</p>
<p style="text-align: justify;">Hingga kini tak adalagi kabar terdengar. Audelia meneteskan air matanya, kerinduan bertemu anaknya tak terjawab surat yang dibaca. Hatinya seperti teriris silet tajam, sapu tangan digenggaman tak kering membasuh air mata, dalam diam ia berdoa <em>”Tuhan dimanakah anak ku kini, bantulan kami menemukannya. Bila ia masih hidup, pertemukanlah kami. Bila sudah meninggal, biarkanlah aku tahu dimana kuburnya, sekedar menangisinya dan mengatakan bahwa aku menyayangi dan mencintainya setulus hati”.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Oleh :<em> Jan Windy</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Baca Juga :</strong> <a title="Yorince....Aku Terus Berharap?" href="http://koarntt.org/?p=361" target="_blank">Yorince&#8230;.Aku Terus Berharap?</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://koarntt.org/?feed=rss2&#038;p=354</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Alon dan Rp.1000,-</title>
		<link>http://koarntt.org/?p=339</link>
		<comments>http://koarntt.org/?p=339#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 May 2012 20:55:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>koar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal Relawan]]></category>
		<category><![CDATA[Alon]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[berhitung]]></category>
		<category><![CDATA[KoAR]]></category>
		<category><![CDATA[Migrant]]></category>
		<category><![CDATA[NTT]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar]]></category>
		<category><![CDATA[Pekerja Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Pintar]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Singgah]]></category>
		<category><![CDATA[Uang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://koarntt.org/?p=339</guid>
		<description><![CDATA[**** Hari sudah sore, saat Alon menyapa ku yang sedang menikmati segelas kopi di ruang depan Rumah Singgah KoAR. Alon datang bersama Yoakhim dan Epi. Mereka masuk, bergabung bersama Ama...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_340" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><a href="http://koarntt.org/wp-content/uploads/2012/05/alon.jpg"><img class="size-full wp-image-340" title="alon" src="http://koarntt.org/wp-content/uploads/2012/05/alon.jpg" alt="Nusa Tenggara TImur" width="600" height="324" /></a><p class="wp-caption-text">Alon bersama anak-anak dampingan KoAR lainnya dalam sebuah acara</p></div>
<p>****</p>
<p style="text-align: justify;">Hari sudah sore, saat Alon menyapa ku yang sedang menikmati segelas kopi di ruang depan Rumah Singgah KoAR. Alon datang bersama Yoakhim dan Epi.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka masuk, bergabung bersama Ama dan Aldo yang sudah datang lebih awal. Dalam hitungan detik, langsung saja tawa ramai menghentikan kesunyian yang sejak tadi ku rasakan. Maklum saja, sejak pagi hanya aku ditinggal sendiri di tempat ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Teman-teman lain sementara bergelut dengan aktivitasnya di tempat lain. Ada yang kuliah, KKN dan ada yang bekerja hingga yang menyempatkan diri mengunjungi rumah mereka masing-masing.</p>
<p style="text-align: justify;">Gelak tawa Alon dan teman-temannya seakan tak peduli lelah yang dirasakan seharian, berjualan kantong kresek dan bekerja di Pasar.</p>
<p style="text-align: justify;">Terhimpit diantara Yoakhim dan Epi, Alon duduk menyilangkan kaki sambil merapikan sisa kresek jualannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bocah yang kini duduk di bangku Kelas 4 SDN Naikoten ini, tersenyum saat mengeluarkan setumpuk uang dari kantong kanan celana pendek coklat yang ia gunakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan suara yang sengaja diperkeras, ia mulai menghitung lembar demi lembar rupiah ditangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">1000….2.000…….4000…….9.000…..14.000……19.000……39.000…….49.000. volume suaranya seakan ingin memamerkan ke teman-temannya, berapa rupiah ia hasilkan hari ini.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em style="text-align: justify;">“ka Yanto, tolong simpan beta (saya) pung (punya) doi (uang) do (dulu)”.</em> Pintanya kepada ku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan nada sedikit menyesal, Alon menjelaskan bahwa hari ini ia hanya membawa pulang Rp. 49.000 untuk ditabung. Sebenarnya ia bisa membawa Rp. 59.000 untuk di tabung. Tetapi Rp. 10.000 telah ia gunakan untuk makan siang.</p>
<p style="text-align: justify;">Alon memang rajin menabung, ia memiliki rekening tabungan sendiri, walau masih atas nama ibunya. Rencananya uang yang ia titipkan ini akan diserahkan pada ibunya besok pagi untuk ditabung untuk biaya sekolahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku kebingungan, bukan karena Alon rajin menabung. Tapi karena hitungan jumlah uang Alon tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Alon pernah ku ajari berhitung 1 hingga 10. Alon pasti selalu salah berhitung.</p>
<p style="text-align: justify;">Apalagi jika ku ajak menjumlahkan angka atau mengurangi angka. Alon pasti melarikan diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi hari ini Alon menghitung uang dengan cepat dan tepat, menjumlahkan dan menguranginya pada angka ribuan tanpa kesalahan. Alon pasti sudah pintar berhitung.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku yang penasaran dengan kebingungan ku bertanya, <em>“Alon kalau 10 tambah 1 berapa?”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, Alon menjawab : <em>“tidak tahu kaka Yanto”.</em></p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>“Kalau 2 tambah 5 ?”</em> tanya ku lagi.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>“Tidak tahu kaka”</em> jawabnya seperti ingin segera beranjak dari dari hadapan ku.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>“Kalau Rp.1000 tambah Rp. 1000?”</em> tanya ku penasaran.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>“Rp. 2000 kaka!”</em> jawab Alon spontan.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>“Kalau Rp. 500 tambah Rp. 500 ?”</em> tanya ku lagi.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>“Rp. 1000 ee kaka”.</em> Jawabnya seperti menjelaskan kepada ku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil tersenyum, ia berlalu kembali bergabung dalam tawa bersama 4 temannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku bertambah bingung, berpikir, apa aku salah mengajarkannya atau dia yang salah? Apa tadi aku salah mendengar?, atau Alon sudah belajar lebih jauh dari apa yang pernah ku ajarkan padanya?</p>
<p style="text-align: justify;">Kebingungan ini sementara ku akhiri dengan asumsi : mungkin karena beraktivitas di pasar setiap hari, Alon lebih akrab dengan angka dalam bentuk uang, bukan angka dalam bentuk satuan ataupun puluhan. Alon lebih bisa hitung uang.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh : Yanto Pandu</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://koarntt.org/?feed=rss2&#038;p=339</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tabungan Gayus</title>
		<link>http://koarntt.org/?p=295</link>
		<comments>http://koarntt.org/?p=295#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 May 2012 14:06:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>koar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal Relawan]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Jalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Gayus]]></category>
		<category><![CDATA[KoAR]]></category>
		<category><![CDATA[Kota Kupang]]></category>
		<category><![CDATA[NTT]]></category>
		<category><![CDATA[Nusa Tenggara Timur]]></category>
		<category><![CDATA[Pekerja Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Singgah]]></category>
		<category><![CDATA[Sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[Tabungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://koarntt.org/?p=295</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini Adrian mengambil tabungannya kembali, kemarin To lebih dulu mengambil. Wanter menginformasikan hal tersebut saat aku tiba siang itu. “Tak apa, masih ada 3 anak yang menabung”, jawab ku....]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://koarntt.org/wp-content/uploads/2012/05/galon1.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-296 alignleft" title="Tabungan Gayus" src="http://koarntt.org/wp-content/uploads/2012/05/galon1-150x150.jpg" alt="Nusa Tenggara Timur" width="150" height="150" /></a>Hari ini Adrian mengambil tabungannya kembali, kemarin To lebih dulu mengambil. Wanter menginformasikan hal tersebut saat aku tiba siang itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Tak apa, masih ada 3 anak yang menabung”,</em> jawab ku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pergi, ada janji dengan teman yang ingin mampir di KoAR tapi tidak tahu alamat persis, sehingga harus dijemput di depan jalan masuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekembalinya bersama teman, seorang wanita separuh baya sedang berdiri di depan pintu Rumah Singgah KoAR sambil memegang tangan Abner yang biasa kami sapa Gayus.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menghampiri, bersalaman memperkenalkan diri pada wanita itu.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>“saya mamanya Abner, mama mau ambil uang Abner di kaka dong”,</em> sambung wanita tadi membalas perkenalan ku.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>“Oo iya, ada, dia memang ada tabung, bisa lihat jumlahnya di Wanter”.</em> Jawab ku sedikit kecewa.</p>
<p style="text-align: justify;">Gayus terdiam sambil menggaruk kepalanya menatap murung kearah ku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku membelai rambutnya, beberapa titik air matanya sempat membekas dipergelangan tangan kanan ku, membuat ku sadar, ia tak rela tabungannya diambil. Tabungan itu di simpan untuk mendaftar masuk sekolah lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Perasaan kesal, marah dan sedih berkecamuk dalam dada. Ingin rasanya membentak wanita ini, bila tak ingat kalau dia adalah ibu Abner.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia sedikit menjauh dari aku dan ibunya, bersilah menumpukan wajah pada lututnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yoakhim menarik tangan ku, menunjuk Gayus yang terlihat sedang menangis.</p>
<p style="text-align: justify;">Ku ajak wanita itu masuk ke ruang depan, meminta Wanter membuat print out daftar tabungan anak-anak.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>“mama mau ambil tabungan Abner untuk beli obat karena dia ada sakit”</em>, jelas wanita itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mengiyakan, walaupun tak percaya, mengingat Gayus sementara berada diluar dan sejak kemarin bersama kami dalam keadaan sehat. Ada juga ceritera dia dan kakaknya yang sering dipukul bila pulang ke rumah tak membawa uang.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menunjukan daftar yang dibuat Wanter pada wanita itu. Ia nampak kaget melihat jumlah yang tertera dalam daftar. Rp. 15.000, dan disampingnya ada angka Rp. 10.000.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>“Mama hanya boleh ambil Rp. 15.000, itu tabungan Abner, 10.000 itu bunga yang kami tambahkan setiap bulan buat setiap anak yang menabung, kalau ambil sekarang bunganya tidak kami berikan, bunga akan diberikan untuk mendaftar sekolah”</em>. Jelas ku</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>“jadi kaka dong potong b pung anak pung uang ko?”</em> sambungnya terdengar marah.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>“tidak, jumlah tabungan Abner memang baru Rp. 15.000, dia juga baru 2 hari menabung untuk nanti mau daftar sekolah, 10.000 itu uang kami yang sengaja ditambahkan setiap bulan, tapi hanya boleh diambil untuk mendaftar sekolah bila dia terus menabung”</em>, balas ku menjelaskan sedikit emosi.</p>
<p style="text-align: justify;">Wanter memberikan uang  Rp. 15.000 kepada wanita itu yang kemudian berlalu sambil menarik tangan  Gayus ikut berjalan bersamanya</p>
<p style="text-align: justify;">Mendekati pagar, Gayus berbalik menatap ku, jelas terlihat ia meneteskan air mata.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini harapannya untuk mendaftar sekolah telah terengut. Teman ku menepuk pundak ku, menyadarkan  dari diam.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini Gayus jarang bermain di Rumah Singgah KoAR.</p>
<p style="text-align: justify;">Tulisan ini sengaja ku buat, guna mengingat semangat Abner yang kami sapa Gayus untuk kembali sekolah.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin tabungan itu belum bisa mengambalikannya ke sekolah. Tapi aku yakin semangatnyalah  yang akan mengantarnya kembali bersekolah.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku percaya ada jalan untuk itu, jalan yang masih belum ditemukan. Ada jalan yang menunggu untuk ditemukan Abner,  aku dan kamu atau siapa saja yang membaca tulisan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh :<em> Jan Windy</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ceritera Berhubungan :</strong></p>
<ol>
<li><a title="Galon untuk Sekolah" href="http://koarntt.org/?p=240" target="_blank">Galon untuk Sekolah</a><a title="Ceritera untuk Yoakhim" href="http://koarntt.org/?p=235" target="_blank"><br />
</a></li>
<li><a title="Ceritera untuk Yoakhim" href="http://koarntt.org/?p=235" target="_blank">Ceritera untuk Yoakhim</a></li>
<li><a title="Mengenal Yoakhim" href="http://koarntt.org/?p=266" target="_blank">Mengenal Yoakhim</a></li>
<li><a title="Yoakhim dan Huruf &quot;S&quot;" href="http://koarntt.org/?p=283" target="_blank">Yoakhim dan Huruf &#8220;S&#8221;</a></li>
<li><a title="Boni dan Mimpinya untuk Kembali Sekolah" href="http://koarntt.org/?p=31" target="_blank">Boni dan Mimpinya untuk Kembali Sekolah</a></li>
<li><a title="Boni : &quot;Beta Sekolah Sa&quot;" href="http://koarntt.org/?p=90" target="_blank">Boni : &#8220;Beta Sekolah Sa&#8221;</a></li>
<li><a title="Tangan Kecil Dibalik Kereta" href="http://koarntt.org/?p=45" target="_blank">Tangan Kecil dibalik Kereta</a></li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://koarntt.org/?feed=rss2&#038;p=295</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yoakhim dan Huruf “S”</title>
		<link>http://koarntt.org/?p=283</link>
		<comments>http://koarntt.org/?p=283#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2012 08:29:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>koar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal Relawan]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Jalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Belajar]]></category>
		<category><![CDATA[KoAR]]></category>
		<category><![CDATA[NTT]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar]]></category>
		<category><![CDATA[Pekerja Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Singgah]]></category>
		<category><![CDATA[Sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://koarntt.org/?p=283</guid>
		<description><![CDATA[**** Malam itu hawa panas masih menyengat, beberapa penghuni rumah singgah KoAR nampak melepaskan baju memprotes cuaca. 5 anak seperti tak ingin menjauh dari kipas angin di ruang tengah. Ernos...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_284" class="wp-caption alignnone" style="width: 610px"><a href="http://koarntt.org/wp-content/uploads/2012/04/bersama-kami.jpg"><img class="size-full wp-image-284" title="Pekerja Anak" src="http://koarntt.org/wp-content/uploads/2012/04/bersama-kami.jpg" alt="Nusa Tenggara Timur" width="600" height="396" /></a><p class="wp-caption-text">Yoakhim (Baju Kuning dan Bercelana Pendek) Berfoto Bersama Para Relawan KoAR Selesai Kegiatan</p></div>
<p>****</p>
<p style="text-align: justify;">Malam itu hawa panas masih menyengat, beberapa penghuni rumah singgah KoAR nampak melepaskan baju memprotes cuaca. 5 anak seperti tak ingin menjauh dari kipas angin di ruang tengah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ernos nampak terbaring disamping botol air kemasan, bersebelahan dengan kantong kresek sisa jualan tadi sore yang ia belum rapikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Tius berlarian, entah apa yang dikejar atau sedang mengejarnya. Suasana itu seakan meminta  malam tak boleh menjadi sepi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ruang depan dikuasai To yang berbaring disebelah Yoakhim yang tak berbaju dan To yang berbaring disebelahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Yoakhim menunjukan apa yang sedang ia lakukan kepada ku. Sebuah kertas bertulisan tak rapi bersanding dengan banyaknya coretan seperti mengoreksi.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendekat, ku ambil kertas itu. Yoakhim menulis huruf kapital A sampai Z.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mengamati tulisan itu, kemudian sebuah kertas baru ku berikan lagi padanya untuk ditulis.</p>
<p style="text-align: justify;">3 menit berlalu, Yoakhim menyodorkan kertas tadi pada ku, kali ini kertas sudah berisi huruf kapital A sampai Z yang ditulisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku membandingkan tulisan di kertas pertama dan kedua, kerapihan tulisannya sedikit meningkat. Namun ada hal lain ku temukan pada 2 kertas tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Huruf S yang ditulis Yoakhim. Huruf S ditulis terbalik hingga menyerupai huruf Z.</p>
<div id="attachment_285" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://koarntt.org/wp-content/uploads/2012/04/belajar-bersama-teman.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-285" title="Anak Jalanan" src="http://koarntt.org/wp-content/uploads/2012/04/belajar-bersama-teman-150x150.jpg" alt="Nusa Tenggara Timur" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Yoakhim (Baju Kuning) Belajar Bersama Teman-temannya di Rumah Singgah KoAR</p></div>
<p style="text-align: justify;">Aku mengambil contoh huruf yang sengaja kami print untuk Yoakhim belajar, memberikan padanya dan meminta ia meniru huruf-huruf tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Kali ini huruf S yang ditulis Yoakhim benar-benar huruf S.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mengambil kembali cetakan contoh huruf dari tangan Yoakhim dan memintanya menulis lagi di kertas yang baru.</p>
<p style="text-align: justify;">Ups, kali ini huruf S yang ditulis Yoakhim kembali seperti huruf Z.</p>
<p style="text-align: justify;">To terbangun, sedikit menggoda Yoakhim, yang dibalas Yoakhim dengan bahasa daerah yang tak aku mengerti dan sempat mengingatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku bertanya kepada Yoakhim, meminta kejelasan arti kalimat bahasa daerah Bajawa yang baru saja ia sampaikan.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 60px;"><em>“S yang ini lebih bagus kak Jan”,</em> jawab Yoakhim, menunjuk huruf S yang ditulisnya menyerupai huruf Z, berusaha meyakinkan ku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku hampir tak bisa menahan tawa. Berusaha tetap tenang, ku berikan kertas baru, memintanya menulis lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Yoakhim menerima kertas tersebut dan berucap <em>“kak Jan beta (saya) tulis pakai huruf S yang ini ee (ya) kak!”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Kembali huruf S seperti Z ia tunjukan pada ku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil menganggukan kepala aku berlalu menahan tawa. Yang penting ia menulis dulu, pikir ku. Setelah terbiasa, baru ia diarahkan perlahan. Toh dia mengerti mana huruf S yang sesungguhnya, walaupun dia lebih menyukai huruf S seperti Z miliknya, pikir ku yang melepas tawa sehabis menulis ceritera ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh : <em>Jan Windy</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ceritera Berhubungan :</strong></p>
<ol>
<li><a title="Ceritera untuk Yoakhim" href="http://koarntt.org/?p=235" target="_blank">Ceritera untuk Yoakhim</a></li>
<li><a title="Mengenal Yoakhim" href="http://koarntt.org/?p=266" target="_blank">Mengenal Yoakhim</a></li>
<li><a title="Galon untuk Sekolah" href="http://koarntt.org/?p=240" target="_blank">Galon untuk Sekolah</a></li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://koarntt.org/?feed=rss2&#038;p=283</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Galon untuk Sekolah</title>
		<link>http://koarntt.org/?p=240</link>
		<comments>http://koarntt.org/?p=240#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Apr 2012 03:15:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>koar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal Relawan]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Beasiswa]]></category>
		<category><![CDATA[KoAR]]></category>
		<category><![CDATA[Migrant Anak]]></category>
		<category><![CDATA[NTT]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar]]></category>
		<category><![CDATA[Pekerja Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Singgah]]></category>
		<category><![CDATA[Sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://koarntt.org/?p=240</guid>
		<description><![CDATA[*** 7 bocah bersemangat menonton pertandingan sepak bola pada salah satu stasiun televisi swasta malam itu. Namun berapa menit berselang, serempak mereka meninggalkan layar televisi di ruang tengah Rumah Singgah...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_241" class="wp-caption alignnone" style="width: 610px"><a href="http://koarntt.org/wp-content/uploads/2012/04/DSC04426.jpg"><img class="size-full wp-image-241" title="Rumah Singgah koAR" src="http://koarntt.org/wp-content/uploads/2012/04/DSC04426.jpg" alt="Nusa Tenggara Timur" width="600" height="450" /></a><p class="wp-caption-text">Anak-anak sementara beraktivitas di Rumah Singgah KoAR</p></div>
<p>***</p>
<p style="text-align: justify;">7 bocah bersemangat menonton pertandingan sepak bola pada salah satu stasiun televisi swasta malam itu. Namun berapa menit berselang, serempak mereka meninggalkan layar televisi di ruang tengah Rumah Singgah KoAR.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>“Kenapa tidak nonton lagi”</em> tanya ku heran membandingkan semangat mereka tadi dengan wajah-wajah lesu mereka kini.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>“Indonesia su </em>(sudah)<em> kalah kak, jadi ketong </em>(kami)<em> su </em>(sudah)<em> malas nonton” </em>jawab Adrian, kemudian kembali bergumul bersama temannya yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Wanter mengajak mereka berceritera, mengingatkan pembicaraan mereka siang tadi tentang kembali bersekolah .</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>“karmana</em> (bagaimana) <em>besong</em> (kalian) <em>masih tetap mau sekolah?”</em></p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>“ia kaka”</em> jawab mereka lantang.</p>
<p style="text-align: justify;">Bersama Wanter, mereka bersilah di ruang depan, membicarakan bagaimana caranya kembali bersekolah. Dimulai dengan sekolah mana yang disenangi?mengapa mereka senang untuk bersekolah disana? dan apakah mereka sudah siap bersekolah lagi?</p>
<p style="text-align: justify;">Nama sekolah tidak disepakati, mereka hanya ingin sekolah yang dekat dengan wilayah pasar tempat mereka beraktivitas selama ini, alasannya, biar bisa berjualan sepulang sekolah agar tetap punya uang sehingga kalaupun sekolah dapur rumah tetap mengepul dan bila sekolahnya dekat, mereka tidak  perlu  tambahan biaya transportasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Pembicaraan berlanjut pada biaya masuk sekolah. Topik ini membuat suasana tiba-tiba menjadi hening. Sepertinya topik ini tidak ingin mereka bahas.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku yang sejak tadi menguping pembicaraan mereka kemudian teringat program beasiswa yang sering diiklankan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pikiran ku cepat terhenti, mengingat hampir keseluruhan beasiswa diperuntukan bagi anak-anak yang bersekolah, itupun melihat prestasi mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimana bisa mendapatkan beasiswa? sekolah saja mereka belum mampu mendaftar karena kesulitan biaya. Sudah pasti tak mungkin ada prestasi sehingga mereka bisa mendapatkan beasiswa yang katanya diutamakan bagi anak kurang mampu.</p>
<p style="text-align: justify;">Keheningan terpecah saat Ernos berteriak mengkampanyekan idenya dengan nada menerangkan kepada Wanter.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>“Begini kak, kan ketong (kami) bajual (berjualan) di pasar, jadi setiap hari ketong tabung di kak dong (kakak-kakak), kalau su (sudah) banyak ketong (kami) bisa daftar masuk sekolah kak”.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Keesokan sorenya Wanter menginformasikan pada ku bahwa 5 anak sudah mulai menabung. Sebuah galon sengaja didesain Wanter sebagai celengan dan untuk informasi tabungan, Wanter membuat daftar exel yang selalu ditunjukan, agar para penabung tahu berapa jumlah tabungan mereka terakhir.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini mereka memiliki sebuah galon yang akan mengantar mereka kembali  ke sekolah dengan kekuatan sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh :<em> Jan Windy</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ceritera Lainnya :</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1. <a title="Ceritera untuk Yoakhim" href="http://koarntt.org/?p=235" target="_blank">Ceritera untuk Yoakhim</a></p>
<p style="text-align: justify;">2. <a title="Tangan Kecil Dibalik Kereta" href="http://koarntt.org/?p=45" target="_blank">Tangan Kecil Dibalik Kereta</a></p>
<p style="text-align: justify;">3. <a title="Boni dan Mimpinya untuk Kembali sekolah" href="http://koarntt.org/?p=31" target="_blank">Boni dan Mimpinya untuk Kembali Sekolah</a></p>
<p style="text-align: justify;">4. <a title="Boni : &quot;Beta Sekolah Sa&quot;" href="http://koarntt.org/?p=90" target="_blank">Boni : &#8220;Beta Sekolah Sa&#8221;</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://koarntt.org/?feed=rss2&#038;p=240</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makanan Kami, 30 Tahun Hilang</title>
		<link>http://koarntt.org/?p=279</link>
		<comments>http://koarntt.org/?p=279#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2012 12:55:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>koar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bukak]]></category>
		<category><![CDATA[Hilang]]></category>
		<category><![CDATA[Jagung Rote]]></category>
		<category><![CDATA[KoAR]]></category>
		<category><![CDATA[Lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[Maria Loretha]]></category>
		<category><![CDATA[NTT]]></category>
		<category><![CDATA[Oelatimo]]></category>
		<category><![CDATA[Pangan]]></category>
		<category><![CDATA[sain]]></category>
		<category><![CDATA[Shorgum]]></category>
		<category><![CDATA[Sone]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://koarntt.org/?p=279</guid>
		<description><![CDATA[**** Bersama Maria Loretha, yang akrab disapa Mama Tata pagi itu, kami pergi ke Desa Oelatimo. Mama Tata adalah petani yang cukup lama berburu bibit dan mengembangkan shorgum di Adonara....]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_280" class="wp-caption alignnone" style="width: 610px"><a href="http://koarntt.org/wp-content/uploads/2012/04/foto-bersama-selesai-menana2.jpg"><img class="size-full wp-image-280" title="Shorgum" src="http://koarntt.org/wp-content/uploads/2012/04/foto-bersama-selesai-menana2.jpg" alt="Nusa Tenggara Timur" width="600" height="391" /></a><p class="wp-caption-text">Foto Bersama Mama Tata Setelah Menanam Shorgum di Oelatimo</p></div>
<p>****</p>
<p style="text-align: justify;">Bersama Maria Loretha, yang akrab disapa Mama Tata pagi itu, kami pergi ke Desa Oelatimo.</p>
<p style="text-align: justify;">Mama Tata adalah petani yang cukup lama berburu bibit dan mengembangkan shorgum di Adonara. Hingga kini 13 jenis bibit shorgum berhasil ia kumpul dan kembangkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Siang itu, mama Tata sengaja datang bersama kami, untuk memperkenalkan kembali shorgum, makanan khas NTT yang telah lama hilang, serta bersama petani mencoba mengembangkannya di Desa Oelatimo.</p>
<p style="text-align: justify;">Para petani yang berkumpul terlihat bingung, mama Pina bertanya, bagaimana caranya mama Tata bisa mengumpulkan bibit-bibit itu?</p>
<p style="text-align: justify;">Bukan tanpa alasan pertanyaan itu keluar dari mulut mama Pina. Menurut Hendrik Suan,  petani yang juga tokoh masyarakat Desa Oelatimo, lebih dari 30 tahun tanaman itu tidak pernah mereka lihat.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em style="text-align: justify;">“dulu saat masih kecil, saya dikasih orang tua makan itu. Tapi sekarang lihat saja tidak pernah, apalagi makan. Sudah 30an tahun kami tidak pernah lihat lagi tanaman ini”</em>. ujar Hendrik.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian petani datang mendekat. Dengan wajah bertanya, tangan mereka menggenggam bibit yang dibawa mama Tata.</p>
<p style="text-align: justify;">Mama Pina berbinar, seperti menemukan sesuatu yang lama ia rindukan. Adam, terus menatap butiran bibit shorgum digenggamannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada sekitar 25 jenis shorgum yang berbeda, sebagian besar jenis dikenal masyarakat Oelatimo dengan sebutan <em>“Bukak”</em>. Untuk jenis yang biasa dikenal sebagai <em>Jewawut</em>, masyarakat Oelatimo menyebutnya <em>“Sain”</em>. Ada juga jenis <em>Jelai</em>, di Oelatimo disebut <em>“Sone”</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Mama Tata menjelaskan bahwa shorgum memiliki nilai gizi lebih tinggi dari beras. Shorgum berkhasiat mengobati luka dalam dan baik dikonsumsi ibu yang sedang menyusui untuk menambah volume ASI.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami mulai membersihkan lahan, mengatur jarak dan letak tanam, kemudian mulai menanam.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada 3 jenis shorgum yang kami tanam. Shorgum merah, coklat, dan putih. Ketiga jenis tersebut oleh masyarakat Oelatimo disebut <em>“Bukak”</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Selesai menanam, para petani yang hadir membagi jadwal menyiram di lahan percontohan. Jadwal hanya dibagi selama 2 minggu, karena setelah 2 minggu shorgum tak lagi butuh perawatan khusus.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>“Bibit yang telah ditanam cukup disiram 2 minggu, sisanya biarkan alam yang mengatur dan kita hanya menunggu waktu panen saja”</em>. Jelas mama Tata</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>“Shorgum dapat dipanen 3 kali, sekali panen 1 Ha bisa menghasilkan 7 Ton”</em>, lanjutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Penanaman kali ini, dimaksud untuk memperbanyak bibit dari hasil panen, sehingga dapat dikembangkan lebih luas lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain ditanam pada lahan percontohan, bibit dibagikan juga pada petani yang hadir. Masing-masing mendapat bibit untuk lahan seluas ¼ Ha.</p>
<p style="text-align: justify;">Mama Pina mengajak ku berfoto sambil memegang bibit shorgum. Petani lain juga ikut berfoto bersama.</p>
<p style="text-align: justify;">Bersama mama Tata, hari itu terurai kembali kenangan, yang lebih dari 30 tahun telah terkubur. Sebuah kenangan tentang shorgum, tentang jagung rote, tentang Bukak, Sone dan Sain, makanan kami yang telah hilang dan kini kami temukan lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh : Jan Windy</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://koarntt.org/?feed=rss2&#038;p=279</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ada Apa Dengan Vin?</title>
		<link>http://koarntt.org/?p=248</link>
		<comments>http://koarntt.org/?p=248#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2012 04:04:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>koar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Borok]]></category>
		<category><![CDATA[Dampak]]></category>
		<category><![CDATA[KoAR]]></category>
		<category><![CDATA[Koreng]]></category>
		<category><![CDATA[Lokasi Tambang]]></category>
		<category><![CDATA[Mangan]]></category>
		<category><![CDATA[NTT]]></category>
		<category><![CDATA[Sakit]]></category>
		<category><![CDATA[Tambang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://koarntt.org/?p=248</guid>
		<description><![CDATA[**** Mobil yang disewa melewati tanjakan terjal bersebelahan dengan jurang, melihat kondisi jalan berlubang dan miring, sopir meminta kami turun dan berjalan kaki hingga melewati tanjakan terjal tersebut, katanya untuk...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_249" class="wp-caption alignnone" style="width: 610px"><a href="http://koarntt.org/wp-content/uploads/2012/04/kaki-vin-saat-difoto.jpg"><img class="size-full wp-image-249" title="Dampak Tambang Mangan" src="http://koarntt.org/wp-content/uploads/2012/04/kaki-vin-saat-difoto.jpg" alt="Nusa Tenggara Timur" width="600" height="461" /></a><p class="wp-caption-text">Kaki Vin Penuh Korengan dan Borok seperti Terbakar</p></div>
<p>****</p>
<p style="text-align: justify;">Mobil yang disewa melewati tanjakan terjal bersebelahan dengan jurang, melihat kondisi jalan berlubang dan miring, sopir meminta kami turun dan berjalan kaki hingga melewati tanjakan terjal tersebut, katanya untuk menjaga keselamatan kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Bersama beberapa teman aku melewati jalan pintas, menuruni bukit yang licin dengan batuan lepas sehingga harus berpegangan pada akar kayu atau pada tanaman disekitar hingga kembali tiba di jalan utama.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang pria dengan jaket bertulis nama sebuah perusahaan menghentikan motormya saat berpapasan dengan kami. Dengan nada menggertak dia menanyakan identitas kami. Nada suaranya membuat seorang teman menjawab dengan nada suara yang sama, <em>“memangnya lu (kamu) sapa (siapa) tanya pakai gertak-gertak?”</em></p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>“saya petugas SMR, kalau masuk sini harus ijin dulu di kantor, apa kalian punya surat ijin masuk sini?”</em> tanyanya lagi.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>“ketong (kami) mau pi (ke) kantor desa, memangnya besong (kalian) bupati jadi pi (ke) kantor desa ju (juga) musti (harus) ijin  besong?”</em> sambung seorang teman dengan nada tinggi.</p>
<p style="text-align: justify;">Si petugas terdiam bingung saat kami tinggalkan tanpa permisi.</p>
<p style="text-align: justify;">Kendaraan berhasil melewati tanjakan. Di kejauhan nampak pria tadi terpaku memandangi tiga kendaraan lewat didepannya. Kami kembali naik ke kendaraan yang kami tumpangi sebelumnya. Dalam kendaraan, si petugas jadi bahan lelucon yang lucunya mengalahkan lawakan Tukul.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah mobil penggaruk berpapasan dengan kendaraan kami.  Disamping jalan, sebuah  mobil penggaruk sibuk melubangi tanah. Nampak kerumunan orang mengelilingi setumpuk tanah bersebelahan dengan tumpukan batuan hitam atau biasanya disebut mangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kantor desa nampak sepi saat Kendaraan kami memasuki halaman, padahal informasi kedatangan kami untuk berdiskusi dengan masyarakat sudah disampaikan lewat kepala desa tiga hari sebelumnya. Parahnya lagi si penyambung informasi tidak menampakan wajahnya sejak tadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekretaris desa dan 2 orang KAUR (Kepala Urusan) keluar menyambut. Seorang teman membisik, ia mendengar informasi, kemarin ada yang menghasut masyarakat untuk tidak boleh terlibat diskusi dengan kami, bahkan kepala desa sendiri gosipnya takut terlibat diskusi.</p>
<p style="text-align: justify;">Entah apa isi benak teman lainnya, aku ingin menyusuri perkampungan, mungkin ada hal menarik yang layak dijadikan kenangan aku pernah menginjakan kaki disini.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak ada bayangan akan kemana, yang ada dibenak adalah berjalan dan kemudian kembali melewati jalan yang telah dilalui.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang bocah lelaki berdiri menyandarkan badan pada pagar kayu di depan rumahnya. Tatapannya tajamnya menyelidiki.</p>
<p style="text-align: justify;">Ah… kesempatan bagus, setidaknya bisa mendapat minuman pikir ku. Apalagi disamping rumah ada pohon kelapa.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>“selamat siang adik, bapa (bapak) deng (dan) mama (ibu) ada dirumah?”</em>  tanya ku dari kejauhan.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>“sonde (tidak) ada kakak, hanya nenek deng (dan) ba’I (kakek) sa (saja) dibelakang”.</em> Jawabnya sambil menunjuk kebelakang rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa bertanya panjang lebar lagi, rasa haus menuntun mengikuti arah telunjuk bocah itu.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>“nenek beta minta kelapa do”</em> (nenek aku minta kelapanya ya), pinta ku saat jarak ku berkisar 3 meter dari perempuan tua yang tengah bingung menatap ku.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>“itu ada dibelakang dua buah bai baru kasi turun tadi (ada dua buah di belakang rumah, baru diturunkan kakek tadi)”</em> jawab perempuan tua itu nampak masih bingung bertanya-tanya siapa aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Langsung aku menuju dapur mencari parang, memotong buah kelapa yang ditunjuk.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu buah kelapa muda ku minum habis airnya. Setelah dahaga terpuaskan, perkenalan baru dimulai. Bla-bla-bla,  si nenek masih bingung, tak apalah yang penting dehidrasi tidak mungkin lagi menyerang.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa saat berceritera, si nenek tampak mulai tersenyum. Sesekali tawa lepasnya memamerkan gigi  merah sehabis mengunyah sirih-pinang.</p>
<p style="text-align: justify;">Sang kakek dan cucunya mendekat. Si kakek menolak ku tawari rokok, ia telah berhenti merokok sejak terserang TBC dan baru sembuh setelah menjalani perawatan hampir setengah tahun.</p>
<p style="text-align: justify;">Mata ku memperhatikan si cucu yang nampaknya menyembunyikan kakinya dibalik dinding, tatapannya menunjukan kesan ingin berkenalan, tetapi sedang menyembunyikan sesuatu yang tak ingin terlihat orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menghampirinya.</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>“kakak pung (punya) nama Jan, lu pung nama sapa (nama mu siapa)</em>??</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><em>“Vin”.</em> Jawabnya singkat.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebungkus coklat kuberikan kepada Vin mengatasi kekakuan, hingga akhirnya kami bisa berceritera dan tertawa lepas.</p>
<p style="text-align: justify;">Tangisan dari dalam rumah membuat nenek Vin berlari kedalam mengendong cucu perempuannya keluar.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat memperhatikan nenek Vin masuk kedalam rumah, mata ku terhenti pada kedua kaki Vin yang penuh borok, seperti korengan dan hitam seperti terbakar.</p>
<p style="text-align: justify;">Yurgen, Yes, dan Ajul datang, suasana bertambah ramai hingga tangisan adik perempuan Vin menjadi tak terkontrol, menginformasikan bahwa kami telah mengganggu tidurnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menanyakan mengapa hingga kaki Vin seperti itu kepada si nenek.</p>
<div id="attachment_250" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://koarntt.org/wp-content/uploads/2012/04/anank-bermain-di-samping-tu.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-250" title="Dampak Tambang Mangan" src="http://koarntt.org/wp-content/uploads/2012/04/anank-bermain-di-samping-tu-150x150.jpg" alt="Nusa Tenggara Timur" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Anak-Anak Desa Noebesa Bermain Diatas Tumpukan Limbah Mangan yang Berada Disamping Tumpukan Mangan</p></div>
<p style="text-align: justify;">Nenek Vin berceritera bahwa Vin selalu bermain bersama teman-temannya dekat tumpukan tanah didepan gereja, tumpukan tanah itu dibuang perusahaan setelah masyarakat memisahkan mangan dengan tanah.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku teringat saat masuk kompleks pemukiman tadi, bertemu tiga anak tengah asyik bermain diatas tumpukan tanah tepat bersebelahan dengan tumpukan mangan. Rupanya tumpukan tanah tersebut adalah limbah hasil pemisahan tanah dengan batu mangan.</p>
<p style="text-align: justify;">Vin pernah dibawa ke puskesmas, namun bidan bingung, Vin menderita penyakit apa, hingga akhirnya memberikan salep dan sebulan lalu telah habis tanpa hasil.</p>
<p style="text-align: justify;">Adik perempuan Vin pun bernasib sama, telinga kanannya penuh koreng sama seperti pada kaki Vin.</p>
<p style="text-align: justify;">Bersama Yurgen, aku menyusuri jalan desa, hingga tiba disebuah kali (sungai kecil) tempat masyarakat biasanya mengambil air untuk minum dan masak.</p>
<p style="text-align: justify;">Terlihat diatas perbukitan di samping kali sebuah mobil penggaruk sementara melubangi tanah, debu tebal beterbangan hingga tempat kami berdiri, sehingga kami harus menutup hidung dengan kaos oblong yang kami gunakan. Namun genangan air disamping kami secepat kilat telah berubah warna kecoklatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa menit kemudian, dari arah perbukitan melaju kearah kami 3 truk penuh muatan. Kaos oblong semakin erat kami tempelkan ke hidung.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah truk melintas tepat diatas genangan air yang kecoklatan tadi. Air kecoklatan kini kering menyisakan lumpur.</p>
<p style="text-align: justify;">kami berbalik ke Kantor Desa, walaupun terik matahari masih menyengat, penanda waktu di HP sudah menunjukan pukul 15.12 WITA.</p>
<p style="text-align: justify;">Sepanjang jalan tumpukan tanah menjadi pemandangan umum di bahu jalan, ada juga yang langsung bersebelahan dengan rumah warga.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba di kantor desa, semuanya telah berkumpul. Mereka mungkin punya ceritera sendiri, sementara aku punya ceritera ini sebagai kenangan aku pernah menginjakan kaki di Desa Noebesa.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh :<em> Jan Windy</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://koarntt.org/?feed=rss2&#038;p=248</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Yoakhim</title>
		<link>http://koarntt.org/?p=266</link>
		<comments>http://koarntt.org/?p=266#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2012 03:23:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>koar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal Relawan]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Hak Anak]]></category>
		<category><![CDATA[KoAR]]></category>
		<category><![CDATA[Migrant]]></category>
		<category><![CDATA[NTT]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar]]></category>
		<category><![CDATA[Pekerja Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Rumah Singgah]]></category>
		<category><![CDATA[Sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[Yoakhim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://koarntt.org/?p=266</guid>
		<description><![CDATA[**** Bocah itu terdiam saat kami tanyakan namanya, entah tak mendengar atau tidak mengerti apa yang di tanyakan. Sempat kami berpikir bocah itu bisu atau mungkin saja tuli, karena apapun...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_267" class="wp-caption alignnone" style="width: 610px"><a href="http://koarntt.org/wp-content/uploads/2012/04/yoakhim-saat-festival-anak-.jpg"><img class="size-full wp-image-267" title="yoakhim-saat-festival-anak-" src="http://koarntt.org/wp-content/uploads/2012/04/yoakhim-saat-festival-anak-.jpg" alt="Nusa Tenggara Timur" width="600" height="451" /></a><p class="wp-caption-text">Yoakhim / Aki (9 thn) dalam sebuah acara refleksi di Rumah Singgah KoAR</p></div>
<p>****</p>
<p style="text-align: justify;" align="JUSTIFY">Bocah itu terdiam saat kami tanyakan namanya, entah tak mendengar atau tidak mengerti apa yang di tanyakan.</p>
<p style="text-align: justify;" align="JUSTIFY">Sempat kami berpikir bocah itu bisu atau mungkin saja tuli, karena apapun yang kami tanyakan selalu ditanggapi dengan diam.</p>
<p style="text-align: justify;" align="JUSTIFY">Namanya Yoakhim, Eja pria separuh baya yang biasa berjualan di depan Rumah Singgah KoAR menginformasikan bahwa bocah 9 tahun itu adalah anak lelakinya yang bungsu dari 3 bersaudara.</p>
<p style="text-align: justify;" align="JUSTIFY">Aki, sapaan bocah itu, memang tak banyak bicara. Selain sangat pendiam, ia tidak begitu mengerti bahasa indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;" align="JUSTIFY">Sudah seminggu Aki tinggal bersama Eja di sebuah lapak berukuran 1 x 1,5 meter beratapkan spanduk bekas dan ditemani barang-barang jualan.</p>
<p style="text-align: justify;" align="JUSTIFY">Eja memboyong Aki dari Bajawa ke Kupang agar dapat membantunya berjualan. Seingat Aki, ia pernah bersekolah dan menggunakan seragam saat Taman Kanak-kanak di Desa Wonoari, Bajawa.</p>
<p style="text-align: justify;" align="JUSTIFY">Pakaian yang digunakan Aki selalu sama sejak awal kami melihatnya. Tak ada sandal yang ia gunakan hingga suatu saat sebuah paku karat menembus kaki kirinya dan ia terbaring sakit selama 4 hari.</p>
<p style="text-align: justify;" align="JUSTIFY">Saat sembuh, kami memaksa Eja agar Aki tidur di Rumah Singgah, minimal sedikit lebih nyaman dibanding harus berdesakan dengan jualan di lapak dan kedinginan malam hari.</p>
<p style="text-align: justify;" align="JUSTIFY">Keseharian Aki selalu menyendiri. Ia tak bermain bersama anak seusianya, ceria jarang tergores di wajahnya. Ketika anak lainnya bermain, berlari-larian dan bernyanyi, Aki tak ada bersama mereka. Ia tersenyum menatap dari kejauhan. Namun, raut senyumnya segera berubah muram ketika anak lain melihat kearahnya.</p>
<p style="text-align: justify;" align="JUSTIFY">Kami mengenalkan Aki pada anak-anak lain. Meminta mereka melibatkan Aki dalam permainan dan mengajaknya meilihat buku-buku di Perpustakaan Rumah Singgah KoAR.</p>
<p style="text-align: justify;" align="JUSTIFY">Wanter membelikan 3 pasang pakaian dan sepasang sandal untuk Aki, mengajarkannya mandi 2 kali sehari serta harus selalu berganti pakaian dan mencuci sendiri pakaian yang telah ia gunakan.</p>
<p style="text-align: justify;" align="JUSTIFY">Kini Aki menjadi penghuni Rumah Singgah KoAR, memiliki teman untuk bermain, memiliki Wanter untuk berceritera dan berbagi serta memiliki waktu untuk mengembalikan kesadaran bahwa ia butuh belajar seperti teman seusianya dan memiliki harapan tersenyum ceria.</p>
<p style="text-align: justify;" align="JUSTIFY">Oleh : <em>Jan Windy</em></p>
<p style="text-align: justify;" align="JUSTIFY"><a title="Ceritera Lainnya :" href="http://koarntt.org/" target="_blank"><strong>Ceritera Lainnya :</strong></a></p>
<ol>
<li><a title="Ceritera untuk Yoakhim" href="http://koarntt.org/?p=235" target="_blank">Ceritera untuk Yoakhim</a></li>
<li><a title="Galon untuk Sekolah" href="http://koarntt.org/?p=240" target="_blank">Galon untuk Sekolah</a></li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://koarntt.org/?feed=rss2&#038;p=266</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
